counters

Kamis, 05 Desember 2013

Ruang lingkup emisi di Negara Indonesia

Ruang lingkup emisi di Negara Indonesia dengan melihat penyebab-penyebab umum yang menyumbang begitu besar emisi.
  • ·      DARI LISTRIK
Tabel 1 jumlah emisi CO2 dari pemakaian listrik.
Tahun
Produksi tenaga listrik (GWh)
Emisi CO2
(Juta Ton CO2)
Faktor emisi CO2
(kg CO2/kWh)
1990
32.293,2
24,20
0,749
1991
37.290,5
28,04
0,752
1992
39.422,6
30,05
0,762
1993
38.608,0
26,52
0,687
1994
44.668,5
34,21
0,766
1995
52.832,4
35,34
0,669
1996
57.523,5
54,69
0,951
1997
68.924,4
51,10
0,741
1998
74.461,0
50,92
0,684
1999
80.023,8
55,32
0,691
2000
83.503,5
60,07
0,719
Diolah dari Statistik PLN dan Dept. ESDM

                Dari data kita ambil saja data pada tahun 2000 yaitu 60.07 juta ton/tahun
·      Dari bahan bakar rumah tangga.
Rata-rata emisi dari konsumsi bahan bakar rumah tangga adalah sebesar 73,6 kg CO2 per rumah per bulan. keluarga yang menggunakan gas tabung menghasilkan emisi rata-rata 48 kg CO2 per bulan. Jika di asumsika di Indonesia terdapat 50 juta rumah, maka emisi yang di hasilkan per tahun adalah 44.88 juta ton CO2/tahun.

Tabel  2  Emisi CO2 dari konsumsi bahan bakar rumah tangga
Jenis Bahan Bakar yang Digunakan
Rata-rata Biaya/bulan
(Rp)
Rata-rata Emisi CO2 (kg CO2/rumah/bulan)
Gas (sambungan gas kota)
20.660,38
53.54
LPG (gas tabung)
55.170,73
47.74
Minyak tanah
34.047,89
78.49
LPG dan minyak tanah
74.900,00
94.84
Sumber: Data Primer


  • ·           DARI KENDARAAN
Karena Satu kendaraan bermotor menghasilkan 8,22 kg CO2 per hari. Dalam beberapa literatur yang saya dapatkan, angka untuk emisi bensin dan solar sangat beragam. Namun dalam hal ini saya mengambil nilai rata-rata dari kedua bahan bakar tersebut yaitu bensin menghasilkan emisi sekitar 2,37 kg CO2/liter dan solar menghasilkan emisi sekitar 2,63 kg CO2/liter).  Sebagian besar di Indonesia, bahan bakar yang digunakan berupa bensin dan sebagian kecil menggunakan solar. Dalam bagian ini, saya akan mencoba menghitung jumlah emisi CO2 yang dihasilkan oleh kendaraan berbahan bakar bensin dan solar yang ada di Indonesia berdasarkan data tersebut. Selanjutnya dalam sebuah artikel, dikatakan bahwa konsumsi BBM Indonesia yaitu 63.000.000.000 liter/tahun

Selanjutnya kita akan menghitung jumlah kendaraan pengguna bensin yaitu :
= Sepeda motor + Mobil pribadi berbahan bakar bensin + Angkutan umum
= 68,724,483 unit (89% dari total kendaraan yang ada di Indonesia)
Selanjutnya, untuk kendaraan pengguna solar yaitu :
= Bus + Truk + Kendaraan pribadi berbahan bakar solar
= 8,182,644 unit (11% dari total kendaraan yang ada di Indonesia)
Total BBM yang dipakai (diasumsikan bahwa BBM hanya bensin dan solar karena di SPBU hanya dijual jenis tersebut) yaitu 63.000.000.000 liter
Maka, penggunaan bensin sebagai berikut :
= 89% x 63.000.000.000 liter
= 56,070,000,000 liter/tahun
Penggunaan solar :
= 11% x 63.000.000.000 liter
= 6,930,000,000 liter/tahun
Selanjutnya kita akan menghitung emisi CO2 dari penggunaan bahan bakar tersebut dengan acuan bahwa emisi bensin 2.37 kg CO2/liter dan solar 2,63 kg CO2/liter.
Maka, tabel perhitungan emisi sebagai berikut (secara sederhana).

Table 3
bahan bakar
total pengguna(liter/tahun)
jumlah emisi co2(kg/liter
total emisi(kg/tahun)
bensin
56,070,000,000
2.37
132,885,900,000
solar
6,930,000,000
2.67
18,225,900,000



151,111,800,000




Jadi dalam setahun kendaraan bermotor menghasilkan 151.11 juta Ton/tahun
·           Dari sampah
Berdasarkan Data Kemen LH Setiap Hari Rata-Rata Setiap Orang Di Indonesia Mengahsilkan 2 Kg Sampah. Jika Saat Ini Penduduk Indonesia Berjumlah 245 Juta Orang Maka Jumlah Total Sampah Yang Dihasilkan Rakyat Indonesia Setiap Harinya Adalah :
245.000.000 X 2 Kg = 490.000.000 Kg (490 Juta Kg) Dikonversi Dalam Ton Menjadi 490.000 Ton/ Hari.

 Bagaimana Jika Satu Tahun ?

490.000 Ton X 365 Hari Maka Rakyat Indonesia Telah Memproduksi Sampah Sebanyak 178.850.000 Ton (Seratus Tujuh Puluh Delapan Juta Delapan Ratus Lima Puluh Ribu Ton Sampah Per Tahun) . dan Setiap 1 ton sampah padat menghasilkan 50 kg gas CH4. Jadi jika di asumsikan maka dalam setahun dari sampah dapat menyumbang 8.94 juta ton CH4 .
  • ·           DARI BATUBARA
Tiap tahun, Indonesia menghasilkan 400 juta ton batubara.

PLTU Batubara Penyebab Utama Emisi Karbon.
Menurut hasil kajian 9 lembaga riset internasional tentang energi  ( ExternE, UK SDC, Univ. of Wisconsin, CRIEPI (Japan), Paul Scherrer Inst., UK Energy Review, IAEA, Vattenfall AB, dan British Energy ), gas karbon dioksida yang dikeluarkan oleh PLTU Batubara berkisar 755 – 990 kgCO2/MWeh .  Ini berarti bahwa untuk menghasilkan 1 megawattjam (MWh) energi listrik, PLTU Batubara akan melepas karbon dioksida sekitar  755-990 kg.  Jika kita hitung dengan menggunakan data kelistrikan nasional 2007 yang sebesar  28.608 MW, di mana 38% berasal dari PLTU Batubara, maka jumlah emisi karbon yang ditimbulkan oleh seluruh PLTU Batubara  selama 1 jam adalah sebesar 38% x 28.608 (MW) x 755 (kgCO2/MWeh) x 1 (h) =  8.207.635,2 kgCO2 , atau 8.208 ton per jam.  Jika emisi dari PLTU Batubara tersebut dihitung untuk rentang waktu 1 tahun, maka jumlahnya di tahun 2007 akan menjadi sebanyak 8760 (h) x 8.208 (tonCO2/h) = 71.992.080 ton, atau 71,992 juta ton CO2. Dan jumlah PLTU di indo nesia terdapat 9 buah. Jadi setiap tahum batubara menyumbang 647.928 juta ton CO2.

Tabel dan Sistematika Aktifitas Manusia (Anthropogenic) dan Jumlah Gas yang Dihasilkan
Anthropogenic
CO2 (Ton/Tahun)
CH4 (Ton/Tahun)


Penggunaan Kendaraan Bermotor
151.11 juta
-

Pembakaran Hutan
14,73
-

Pemakaian Batu Bara
647.928 juta
Belu tahu

Pembuangan Sampah
-
8.94 jt

Pemakaian Listrik
60.07 jt
-

Pernafasan
82.5 jt
-

jumlah
956.338 jt
8,94 jt


Jika CH4 = 72 * CO2 maka jumlah emisi co2 selama setahun adalah 1.567.618.000 juta ton co2
Nama pohon
%
Kemampuan menyerap co2 (ton/tahun)
jumlah pohon
Diameter teduh(m)
Luas(m2)
luas lahan(m2)
jati
0.16
0.135
18579176296
2.5
4.90625
91154083704
trembesi
0.2
28488.39
110053.1129
5
19.625
2159792.34
beringin
0.1
535.9
2925206.195
5
19.625
57407171.58
mahoni
0.2
295.73
10601683.97
3
7.065
74900897.24
Rambutan
0.1
0.00212
7.39442E+11
3.5
9.61625
7.11066E+12
Nangka
0.1
0.126
12441412698
2
3.14
39066035873
Akasia
0.14
0.048
45722191667
2.5
4.90625
2.24325E+11






7.46534258E+12






7.47 juta km2

Jika di bandingkan dengan luas Indonesia yang sebesar 1.922.570 km², maka untuk mengurai emisi karbon dari seluruh aktivitas di Indonesia kita membutuhkan 4 x dari luas Indonesia. Dan penyumbang emisi ter besar itu adalah batu baradan kendaraan bermotor.. Itu pun belum termasuk jumlah emisi dari yang lain-lain… jadi kita seharusnya menyadari bahwa bukan hanya menanam tanaman saja, tetapi juga harus merubah polanya..

Minggu, 01 Desember 2013

Mengenal Pengertian Ekonomi Hijau (Green Economy)

Mengenal pengertian ekonomi hijau atau green economy sebenarnya tidak sulit, demikian paling tidak menurut salah satu teman saya. Menurut dia apa yang disebut dengan ekonomi hijau adalah perekonomian yang tidak merugikan lingkungan hidup.
Program Lingkungan PBB (UNEP; United Nations Environment Programme) dalam laporannya berjudul Towards Green Economy menyebutkan, ekonomi hijau adalah ekonomi yang mampu meningkatkan kesejahteraan dan keadilan sosial. Ekonomi hijau ingin menghilangkan dampak negatif pertumbuhan ekonomi terhadap lingkungan dan kelangkaan sumber daya alam.
Dari definisi yang diberikan UNEP, pengertian ekonomi hijau dalam kalimat sederhana dapat diartikan sebagai perekonomian yang rendah karbon (tidak menghasilkan emisi dan polusi lingkungan), hemat sumber daya alam dan berkeadilan sosial.
Kemudian apa bedanya ekonomi hijau (green economy) dengan pembangunan berkelanjutan (sustainable development)?. Konsep ekonomi hijau melengkapi konsep pembangunan berkelanjutan. Sebagaimana diketahui prinsip utama dari pembangunan berkelanjutan adalah “memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan pemenuhan kebutuhan generasi masa depan”. Sehingga dapat dikatakan bahwa ekonomi hijau merupakan motor utama pembangunan berkelanjutan.
Ekonomi Hijau
Ekonomi Hijau (Green Economy)
Ekonomi Hijau Tema Hari Lingkungan Hidup 2012. UNEP menetapkan tema Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2012 adalah Green Economy: Does it include you?”. Dalam konteks Indonesia, tema tersebut diadaptasi sebagai Tema Hari Lingkungan Hidup Indonesia 2012 menjadi “Ekonomi Hijau: Ubah perilaku, tingkatkan kualitas lingkungan”.
Dari sini terlihat pentingnya perubahan paradigma dan perilaku untuk selalu mengambil setiap kesempatan dalam mencari informasi, belajar dan melakukan tindakan demi melindungi dan mengelola lingkungan hidup. Dengan kualitas lingkungan hidup yang lebih baik akan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Pola hidup masyarakat modern telah membuat pembangunan sangat eksploitatif terhadap sumber daya alam dan mengancam kehidupan. Pembangunan yang bertumpu pada pertumbuhan produksi terbukti membuahkan perbaikan ekonomi, tetapi gagal di bidang sosial dan lingkungan. Sebut saja, meningkatnya emisi gas rumah kaca, berkurangnya areal hutan serta musnahnya berbagai spesies dan keanekaragaman hayati. Di samping itu adalah ketimpangan rata-rata pendapatan penduduk negara kaya dengan negara miskin.
Konsep ekonomi hijau diharapkan menjadi jalan keluar. Menjadi jembatan antara pertumbuhan pembangunan, keadilan sosial serta ramah lingkungan dan hemat sumber daya alam. Tentunya konsep ekonomi hijau baru akan membuahkan hasil jika kita mau mengubah perilaku.

http://alamendah.org/2012/06/03/mengenal-pengertian-ekonomi-hijau-green-economy/

Jumat, 18 Oktober 2013

Diponegoro School Of Nation

Buat kalian yang berjiwa nasionalis dan patriotisme serta cinta Indonesia! Gabung bersama kami dalam Diponegoro School of Nation 2013..

Sebuah event pelatihan tiga pilar mahasiswa (Aktivis, Entrepreneur dan Akademisi). Yang peserta adalah mahasiswa aktivis, mahasiswa entrepreneur dan mahasiswa akademisi di Perguruan Tinggi se-Jateng

Persyaratan
1.      Mengisi formulir pendaftaran (Download di Web Bem Km Undip atau Blog DSN)
2.      Foto 3 x 4 dua lembar
3.      Curriculum Vitae
4.      IPK minimal 3.00 dibuktikan dengan KHS Semester 4 Bagi angkatan 2011 dan KHS Ssemester 6 bagi angkatan 2010
5.      Surat Keterangan aktif organisasi
6.      Surat rekomendasi fakultas atau universitas
7.      Fotocopy sertifikat kepanitiaan/penghargaan (Minimal 5 Kepanitiaan) 
8.      Mendaftarkan diri dengan memilih bidang yang diminati (Pilih 1)
-          Mahasiswa Aktivis
-          Mahasiswa Entrepreneur
-          Mahasiswa Akademisi
9. Membuat   essay  tentang DSN (apasaja yang diketahui tentang DSN) dan essay bertemakan (pilih salah satu sesuai dengan bidang yang dipilih) :
·         Aktivis (Pergerakan mahasiswa)
·         Entrepreneur (Entrepreneur/sosiopreneur)
·         Akademisi (Riset)
Semua mengacu pada MDG’s dan harapan untuk Jawa Tengah 2014.
 (Minimal 1.500 karakter , TNR 12, space 1.5)




Berkas Bisa Dikirimkan Ke :
Email DSN (dsn.diponegoro@gmail.com) di kumpul dalam satu folder. Format pengiriman (Univ_Nama_Bidang) ex (Undip_Aji_Aktivis).


Selasa, 08 Oktober 2013

KTT APEC Hasilkan 7 Poin Kesepakatan


Sebagian pemimpin wilayah Asia Pasifik berfoto dalam penutupan KTT APEC di Bali (8/10). (AP/Dita Alangkara)
Sebagian pemimpin wilayah Asia Pasifik berfoto dalam penutupan KTT APEC di Bali (8/10). (AP/Dita Alangkara)

Selasa, 01 Oktober 2013

Nilai Aset Blok Mahakam


Majalah Fortune yang rutin menampilkan daftar 500 Perusahaan Terbesar Global setiap tahun, pada edisi Juli 2013 menempatkan Pertamina pada posisi 122 dari 500 perusahaan terbesar dunia. Sampai sekarang, Pertamina merupakan perusahaan Indonesia pertama dan satu-satunya yang masuk daftar perusahaan global terbesar tersebut (SINDO 15/7/2013).

Dalam daftar terlihat perusahaan-perusahaan yang menduduki peringkat 1-5 adalah Shell, Wal-Mart, Exxon, Sinopec dan CNPC. Dua yang disebut terakhir adalah perusahaan minyak milik China. Peringkat 6 dan 10 diduduki BP dan Total. Sedang perusahaan minyak negara Asean seperti Petronas berada pada posisi 75 dan PTT Thailand pada posisi 81.

Pemeringkatan oleh Fortune antara lain didasarkan pada tiga faktor utama yaitu nilai pendapatan, aset dan laba. Shell (peringkat 1), Total (10), Petronas (75) dan Pertamina (122), masing-masing memperoleh pendapatan  US$ 481 miliar, US$ 243 miliar, US$ 94 dan US$ 70 miliar. Sedang dari sisi nilai aset, keempat perusahaan berturut-turut memiliki US$ 360 miliar, US$ 226 miliar, US$ 159 miliar dan US$ 40 miliar.

Pertamina (2012) mencanangkan pencapaian peringkat Fortune 100 pada 2025. Tahun 2013, perusahaan yang berada pada peringkat 100 Fortune adalah China Railway dengan pendapatan US$ 77 miliar dan aset US$ 78 miliar. Pendapatan perusahaan pada peringkat 105 hingga 95 berkisar antara US$ 75 miliar hingga US$ 142 miliar. Sedang asetnya berkisar antara US$ 142 miliar hingga US$ 1000 miliar. Untuk mencapai target, maka nilai aset dan pendapatan Pertamina harus meningkat signifikan sesuai range peringkat 105-95 tersebut.

Pertamina telah mulai meningkatkan aset di dalam maupun luar negeri sejak 2008. Aset-aset potensial domestik yang lebih gampang diakuisisi adalah blok-blok migas yang habis masa kontrak. Karena itu Pertamina telah berupaya menguasai blok-blok ONWJ, WMO, Blok Mahakam, dll. Jika Pertamina telah dominan dan mendapat pengakuan di dalam negeri, maka pengakuan global pun gampang diraih. Sangat disayangkan, upaya tersebut tidak selalu berjalan mulus dan belum mendapat dukungan optimal dari Pemerintah.

Nilai Aset Blok Mahakam
Berdasarkan publikasi BP Migas (2010), cadangan Mahakam yang tersisa pada 2017 adalah 10 tcf (triliun cubic feet) gas dan 190 juta barel minyak. Namun sejumlah kalangan meyakini cadangan gas terbukti yang tersisa adalah 2 tcf, ditambah cadangan ekstra berupa kategori “2P” (proven-probable) dan “3P” (proven-probable-possible) antara 4-6 tcf. Sehingga diperkirakan cadangan yang tersisa pada 2017 adalah [2 + (4-6)] tcf = 6-8 tcf.

Jika diasumsikan cadangan migas tersisa tersebut hanya 6 TCF dan 100 juta barel, maka nilai aset Mahakam pada harga gas US$ 12/MMBtu dan minyak US$ 100/barel adalah  US$ (12/106 Btu x 6 x 1012  CF x 1000 Btu) + US$ (100/barel x 100 juta barel)  = US$ 82 miliar. Jika cadangan tersisa dianggap 8 tcf, nilai aset menjadi US$ 106 miliar, atau lebih Rp 1000 triliun! Inilah sebab utama mengapa Total dan Inpex ingin tetap menguasai Mahakam.

Setelah kontrak berakhir pada 31 Maret 2017, seluruh aset dan cadangan Mahakam menjadi milik negara. Jika Pemerintah menyerahkan pengelolaan Mahakam pada 2017 sepenuhnya kepada Pertamina, maka seluruh cadangan Mahakam bernilai minimal US$ 82 miliar menjadi milik Pertamina. Hal ini pasti akan meningkatkan nilai aset dan laba Pertamina secara signifikan guna dapat meraih predikat Forune 100. Penyerahan pengelolaan Mahakam kepada Pertamina ini tidak melanggar satu pasal pun dalam kontrak KKS Mahakam dengan Total dan Inpex.

Berdasarkan Ernst & Young (2013) biaya akuisisi cadangan migas 2012 berkisar antara 10-15% nilai aset. Karena itu jika Pertamina menguasai Mahakam, maka nilai asetnya akan meningkat minimal 10% dari US$ 84 miliar, atau US$ 8,4 miliar. Namun nilai aset tersebut bisa meningkat US$ 84 miliar jika seluruh cadangan migas diserahkan Pemerintah kepada Pertamina. Dalam hal ini, jika 50% saham Mahakam kembali dikuasai Total & Inpex, maka Pemerintah seharusnya dapat memperoleh dana minimal US$ 4,2 miliar.

Status perusahaan yang masuk peringkat 100 terbesar global sudah pasti akan meningkatkan leverage dan pengakuan internasional. Penguasaan Mahakm akan membuat Pertamina tumbuh semakin besar. Sehingga Pertamina mampu mengakuisisi lebih banyak sumber migas secara global guna meningkatkan cadangan, ketahanan energi dan penerimaan APBN. Karena itu sikap Pemerintah yang tak kunjung merestui keinginan Pertamina mengelola Mahakam sangat patut dipertanyakan.

Penguasaaan dan monetisasi sumber daya alam (SDA) oleh BUMN merupakan amanat konstitusi yang harus konsisten dijalankan. Penguasaan negara mempunyai arti membuat kebijakan, mengurus, mengatur, mengelola dan mengawasi SDA demi kemakmuran rakyat. Salah satu alasan dibubarkannya BP Migas oleh MK adalah karena hilangnya kesempatan negara memanfaatkan aset, sebab BP Migas tidak berwenang “mengelola” cadangan migas negara seperti BUMN. Karena itu, aset negara lebih banyak dimonetisasi perusahaan asing, sehingga BUMN hanya menguasai sekitar 17% produksi migas nasional.

Kekeliruan di atas sangat mendesak diperbaiki melalui perbaikan UU Migas. Namun tanpa menunggu perbaikan UU, Pemerintah dapat melakukan terobosan dengan segera menyerahkan blok-blok migas habis kontrak kepada Pertamina, terutama yang masih menyisakan cadangan besar seperti Blok Mahakam. Hal ini sejalan dengan road map jangka panjang pengembangan Pertamina menuju peringkat 100 perusahaan global .

Faktanya, Pertamina telah menyatakan keinginan dan kemampuan mengelola Mahakam sejak 2009 (20/10/2009). Pertamina pun telah membuktikan kemampuan meningkatkan produksi ONWJ yang diakuisisi dari BP tahun 2009 dari 12.000 bph menjadi 33.000 bph pada 2013. Karena itu, seandainya pun Pertamina menyatakan tidak mampu, justru menjadi tugas Pemerintah memberi dukungan. Yang terjadi, Pemerintah malah menghadang Pertamina mengelola Mahakam dengan alasan ketidakmampuan SDM, teknis, finansial, dsb.

Seorang pejabat SKK Migas yang pernah bekerja puluhan tahun di Total mengakui sekitar 98% orang Indonesia yang ada di Total akan mampu melanjutkan eksploitasi Mahakam (6/3/2013). Dari segi teknologi, seluruh sarana yang dibutuhkan untuk kegiatan produksi migas dapat diperoleh dari service companies tanpa tergantung Total. Secara finansial, cadangan yang besar dapat dimonetisasi guna kemudahan memperoleh kredit.

Sambil menolak Pertamina menguasai Mahakam, Pemerintah terus membuka jalan bagi tetap dominannya pihak asing. Pemerintah (Dirjen Migas) telah setuju memberi insentif percepatan masa depresiasi yang terbayar sebelum terminasi (1/2/2013). Pemerintah pun terlibat merancang skenario “masa transisi 5 tahun”. Masalah besarnya kebutuhan investasi, hengkangnya investor asing, terganggunya pasokan kontrak gas dan ancaman penarikan investasi pun terus mengemuka guna menyukseskan skenario tsb. Hal ini tak layak dibiarkan.

Akhirnya, monetisasi dan pengelolaan Mahakam oleh Pertamina merupakan langkah terbaik dan konstitusional guna meraih predikat 100 perusahan global terbesar. Jika hal ini berhasil negara dan rakyat pasti sangat diuntungkan. Namun keinginan BUMN milik rakyat yang luhur, strategis, kontraktual dan konstitusional ini tak kunjung didukung Pemerintah. Karena itu IRESS hanya bisa mengingatkan jangan sampai peluang emas ini terlewatkan akibat KKN,  perburuan rente, konspirasi  dan ketidakmampuan menghadapi tekanan asing.

Sumber : Marwan Batubara , http://satunegeri.com.